Karir Ibu

   

 Aku mau sharing tentang pengalamanku berumah tangga meski masih bau kencur. Di tahun pertama aku menikah, rasanya sulit menentukan mau jadi ibu rumah tangga atau wanita karir. Apalagi kalo udah dikasih anak. Beryukur banget, nggak perlu nunggu lama udah langsung dikasih momongan.

     Gimana rasanya mau punya baby? Seneng banget. Padahal masih pengen kerja. Galau galau deh. Jadi sebelum memutuskan untuk menikah dengan suamiku. Aku adalah seorang mahasiswa rantauan di tanah oppa oppa cantik (dibaca : Korea Selatan). Sepulang dari Seoul, diajakin nikah.
Jeng jeng, kehidupanku mulai banyak berubah setelah menjadi istri. Iya donk, apa-apa nggak bisa mutusin sendiri. Harus ngobrol dan minta pendapat suami.

     Sampai ketika aku pengen banget kembali kerja, suami tidak mengijinkan. Stres, iya pasti. Karna sebelum berangkat ke Seoul aku bisa dibilang worka holic. Aku cuma punya waktu 4 jam untuk tidur. Selebihnya untuk bekerja dan kuliah. Capek? Pada saat itu nggak ngerasa capek sama sekali. Mungkin karna udah biasa. Gimana rasanya orang yang terbiasa kerja. Tiba-tiba nganggur dirumah cuma ngerjain pekerjaan rumah.

     Masih banget pengen kerja. Akhirnya suamiku luluh dengan segala bujuk rayuanku. Jadinya aku ngajar disalah satu PAUD dekat rumah sampe akhirnya aku lahiran. Setelah lahiran suamiku memintaku fokus ngurus bayi mungil kita. Ketika aku mulai menunjukkan kesedihan. Dia mulai bilang : "boleh berkarir, tapi dari rumah aja ya. Anak kita lebih butuh kamu."

     Darisitu aku mulai membulatkan tekad untuk resign dan mengurus rumah tangga sampai sekarang.
Mau jadi wanita karir atau ibu rumah tangga. Atau jadi keduanya, itu pilihan ibu ibu. Yang terpenting, kita sebagai wanita bekerja bukan untuk mencari nafkah. Tapi untuk membantu suami.
Buat suamiku, dengan aku mengurus anak dan rumah. Itu sudah sangat membantu dia, tanpa aku harus capek bekerja. Tapi kalo aku mau berkarya, dia orang pertama yang mendukungku.
   
Jadi teruntuk para ibu entah wanita karir atau menjadi ibu rumah tangga adalah masing-masing tiap orang. Nggak perlu merasa minder dengan pilihan ibu. Karna aku yakin setiap ibu mengambil pilihan yang terbaik untuk keluarganya.


Talk about your blessings more than you talk about your problems

Comments

Popular Posts