Teamwork



     Kenapa orang tua dan guru harus kompak?

     Karna ini semua untuk kepentingan bersama. Tunggu, kayaknya perlu diperjelas kepentingan siapa. Yang jelas teruntuk anak, orang tua dan guru.
Pasti pernah pacaran donk. Gimana rasanya pacaran searah. Seperti yang aktif si cewek aja atau bahkan sebaliknya. Bisa nyambung nggak sih kalo cuma salah satu aja yang aktif? Nggak donk. Yang namanya relationship pasti ada namanya komunikasi. Ternyata komunikasi dibagi jadi 2 tipe ; searah dan dua arah. Yang searah itu semacam guru yang menyuruh muridnya duduk tenang di bangku dan guru menjelaskan semua hal di papan tulis. Sedangkan yang dua arah layaknya diskusi kelompok yang lagi bikin materi presentasi. Menurut kalian lebih enak yang mana? Pasti akan banyak yang jawab komunikasi dua arah. Tapi pada kenyataannya, masih banyak guru dan orang tua yang kurang kompak berkomunikasi.

     Capek banget donk jadi guru? Banget. Kehidupan guru serasa dibeli 24jam untuk memikirkan anak didiknya (malah curhat haha). Kebayangkan kalo muridnya banyak banget mungkin sekitar 30 siswa. Nah, wajarnya 1 guru membimbing 10 siswa. Wah, banyak donk kelasnya. Ah, nggak juga. Udah banyak sekolah yang menghapus sistem wali kelas dan mulai menerapkan 1 guru pembimbing untuk 10 siswa.

     Back to the topic. Dengan kecilnya jumlah siswa yang dibimbing kemungkinan besarnya guru akan fokus untuk memperhatikan perkembangan siswa. Pasti seneng kalo guru memperhatikan anak kita. Itu artinya ada orang tua disekolah yang mau berbagi dengan kita para orang tua. Wajib banget disyukuri kalo dapet guru pembimbing yang perhatian sama perkembangan anak kita. Dia akan update tentang perkembangan anak sebagai teman dan juga guru. Wah perlu banget menraktir guru ini sesekali, atau sekedar mengundang makan malam untuk mempererat kerjasama.

     Kebayang enaknya punya teman yang memperhatikan anak kita. Kerja jadi tenang, urusan anak pun jadi lebih mudah. Karna ada yang bisa diajak diskusi ketika ada masalah kecil terjadi pada anak. Apalagi untuk anak yang usia 1.5-6 tahun. Masa emas kayak gini nggak boleh dilewati dengan memilih sekolah "asal murah". Karna apa yang terbentuk di masa emas si anak akan menjadi dasar untuk tahun-tahun berikutnya. Ibarat orang lagi membangun rumah, eh asal-asalan bikin pondasi "asal murah", kebayang banget kan kualitasnya seperti apa. Begitulah gambaran sederhananya.

     Yuk deh ayah bunda, mulai cari sekolah atau kurikulum yang terbaik buat si kecil. Kalo udah mentok nggak dapet, brarti bunda harus mengalah dengan merelakan karirnya untuk membangun pondasi terbaik untuk di kecil.

Comments

Popular Posts