Adsme

Sebuah Apresiasi



Apresiasi hal sederhana yang jarang banget kita lakukan ke orang terdekat. Bahkan diteruskan kembali dan dibiasakan. Yang sangat disayangkan, itu terjadi kepada orang tua. Lagi lagi orang tua. Sekarang ini kebanyakan anak menjadi sasaran kemarahan, sasaran disuruh ini itu. Tapi pernahkah orang tua berbicara empat mata untuk minta maaf secara tulus atau berterima kasih secara tulus.

Aku juga orangtua (baru). Ketika menyelesaikan pekerjaan rumah saya berusaha berterima kasih pada si kecil yg bersedia menunggu dan meminta maaf ketika terlalu lama meninggalkan dia untuk melakukan pekerjaan rumah. Komunikasi semacam ini begitu sederhana tapi sangat sensitif. Begitu pula suamiku, bahkan ketika aku menyusui si kecil, dia berterima kasih karna aku sudah bermain, menjaga si kecil seharian atau tentang pekerjaan rumah yang sudah kulakukan. Aku merasa dihargai. Apakah itu tidak berarti apa-apa? Tentu sangat berarti, hari-hariku berikutnya menjadi lebih semangat dan moodku bagus. Itu semua kembali lagi seperti siklus.

Jauh sebelum menjadi orang tua. Akupun seorang anak, aku pernah mengalami hal yang kurang menyenangkan. Seharian lelah disekolah, belum juga istirahat sudah disuruh cuci piring, masak nasi, ini dan itu. Capek, laper dan kesal. Disekolah aku juga memiliki permasalahan, aku juga ingin ditanya kabarku, bagaimana perasaanku. Rasanya bosan dan ingin cepat tumbuh dewasa agar bisa segera keluar dari rumah. Ketika aku salah aku menjadi sasaran pukulan, makian dan kata-kata kasar. Mirisnya lagi orang tua ku berucap itu demi kebaikanku. Ketika aku melakukan hal baik dirumah, tidak ada apresiasi dari mereka. Luka itu masih akan terkenang karna menyakitkan. Memaafkan bukan berarti melupakan kesalahan kan?

Ketika aku jadi orang tua. Aku memiliki pilihan, mendidik anakku dengan cara yang keras yang seperti orang tuaku lakukan atau mendidik dengan cara yang aku dambakan ketika aku masih kecil? Jelas akupun memilih yang kedua.

Setiap malam, aku dan suamiku berdiskusi. Akupun tahu lelahnya dia sepulang kerja hingga larut malam. Tapi obrolan malam kami tentang hari ini, berulang terus. Kami saling menceritakan kegiatan kami mengevaluasi tentang hari ini. Obrolan manis ini semakin membuat kita kompak. Kami saling belajar dan mengingatkan setiap hari. Kalo bukan dengan pasangan kami bercerita, lalu dengan siapa lagi akan bercerita. Masih ingat kan tentang masa pacaran. Dimana kalian saling bercerita apapun itu, bahkan hampir tiap jam selalu memberi kabar.

Comments

Popular Posts

Sweet