Adsme

Rapor Merah




Udah mau akhir semester aja ya. Ada beberapa sekolah yang udah melaksanakan ujian akhir semester dan para guru mulai sibuk mengumpulkan nilai. Tiba saatnya orang tua mulai mondar mandir khawatir dengan nilai anak. Kebanyakan bukan karna mengejar peringkat, tapi untuk sekedar lolos nilai standard yang diberikan saja udah deg-degan.

Tapi bersyukur sih nilai rapor sekarang bukan murni karna ujian 1 hari, tapi akumulasi nilai tugas, PR, UTS, dan praktek.  Jadi kalo selama ini si anak mengikuti pelajaran dengan baik, mereka akan mengumpulkan tugas dan PR tepat waktu. Sebenarnya tujuan tugas dan PR itu untuk melatih anak terbiasa dengan pertanyaan tentang materi. Jadi semakin tinggi kelasnya semakin besar tanggung jawabnya. Lagi pula PR juga membantu mereka membiasakan diri mengatur kemandirian dan tanggung jawab. Jadi anak mulai bisa memprioritaskan hal yang penting. Anak sedang berproses dalam mengerjakan tugas.

Sebentar lagi orang tua menerima rapor. Bagaimana jika nilai rapor anakku merah/ jelek/ rawan tidak naik kelas nantinya? Yuk kita bahas. Jadi sampai sekarang masih banyak orang tua yang berfokus pada nilai rapor, memang pada kenyataannya nilai yang bagus akan melegakan bagi orang tua dan anak. Tapi kadang kita para orang tua tak sanggup membendung rasa kecewa yang berlebihan ketika anak mendapatkan nilai yang tidak sesuai harapan. Berujung pada kemarahan, memberi ceramah panjang, hukuman yang nanti akan berdampak pada rasa tertekan anak. Kadang anakpun belum punya solusi untuk tekanan itu, bisa saja dia menyalahkan dirinya, semakin kurang percaya diri.

Disini ada beberapa cara untuk menghadapi nilai rapor merah :

1. Minta anak melihat nilai rapornya sendiri, coba untuk tidak memaki atau memarahi anak. Simpan sebentar rasa kecewa itu. Tanyakan responnya terhadap nilai merah, apakah itu harapannya tentang nilai rapornya. Bicaralah empat mata, dengarkan keluh kesahnya tentang nilai merahnya. Jangan terlalu banyak menasehati, tapi mari menemukan solusi bersama

2. Anak juga pasti mengalami stres dengan melihat nilai merah, hibur mereka dengan mengajaknya makan atau jalan-jalan. Ini bukan reward, mungkin hanya untuk menghirup udara segar agar pikiran kita juga tenang.

3. Buat kesepakatan bersama. Tanyakan solusi yang akan dia ambil untuk mengembalikan semangat belajarnya seperti apa, berikan alternatif solusi. Misal si anak ingin diberi waktu belajar 2 jam sehabis maghrib, maka kita juga harus berkomitmen membuat situasi belajar yang kondusif. Bisa mengajak si adek keluar sebentar karna kakaknya butuh waktu untuk konsentrasi. Kalo anak minta waktu untuk belajar kelompok, berikan saja lalu minta dia menjelaskan apa yang sudah dia dapatkan dari belajar kelompok. Dengan begitu dia akan memanfaatkan waktu dengan baik.

Tarik nafas yang dalam, tahan, lalu hempaskan perlahan. Semoga tulisan ini cukup memberi bekal untuk para orang tua yang akan menerima rapor.


The real mistake is to stop trying.

Comments

Popular Posts

Sweet