Rasa Remaja


Aku menulis ini karna pernah remaja, masa yang penuh dengan teka-teki gejolak rasa dan sensitifitas yang begitu dinamis. Di fase ini, kebanyakan orang tua baru mulai mengarahkan anaknya. Ibarat pondasi rumah yang dibangun asal-asalan ketika awal dan ingin memperbaiki ketika rumah sudah hampir jadi.

Orang tua semakin ikut campur tapi enggan mendengarkan, rasa ingin menasehati terlalu besar. Sampai akhirnya remaja mulai tak nyaman dengan situasi rumah. Mereka akan pergi menjauh dari keluarga dan mencari tempat dimana mereka bisa diterima, kelompok kecilnya disebut sahabat. Mereka juga akan memprioritaskan sahabat diatas kepentingan keluarga. Karna mereka mendapat tempat yang nyaman, diterima, mendapat dukungan. Beberapa hal yang tidak didapatkan dari keluarga yang memberinya kritikan, tekanan dan tuntutan.


Aku tahu pasti fase remaja fase yang sangat sulit untuk dimengerti para orang tua. Begitu pula remaja, sulit mengartikan keinginan orang tua. Mereka ingin diberi waktu dan ruang khusus untuk dirinya, dia butuh mencari jati diri dan kemauan hati. Hormati pilihannya jika sesekali dia menolak ajakan untuk ikut acara anda. Beritahu jauh hari sebelumnya jika ingin mengajak pergi remaja. Bertanyalah dengan baik jika mereka sering menolak ajakan anda. Mungkin mereka punya alasan khusus seperti ketidak nyamanan berada di lingkungan yang asing tanpa teman sebaya. Jangan terlalu memarahinya kalo mereka sering melihat HP, karna ketika disuatu acara yang besar anda pasti punya kepentingan sendiri dengan teman-teman anda. Dia sedang mencari hiburan karna tak terbiasa diajak ngobrol santai dengan anda.

Ada beberapa hal yang diinginkan remaja

Remaja tidak suka dipaksa, percayalah memaksakan kehendak kita kepada remaja akan membuat kikisan kecil dihati mereka yang semakin hari semakin besar. Lalu mereka mulai kehilangan kepercayaan kepada anda. Tanyakan apa yang dia suka, alasan mengapa dia ingin menggunakan pakaian seperti ini dan itu, tanyakan keinginannya.

Remaja ingin dihargai sebagai dirinya, label anak ibu/ mama/ mami dsb akan melekat ketika mereka masih kecil. Karna kebiasaan kita para orang tua memperkenalkan mereka dengan embel-embel dia anakku. Padahal, mereka ingin diakui keberadaannya, ingin dihargai sebagai dirinya sendiri, dihargai kemampuannya karna kerja kerasnya bukan karna dia anak si A atau si B. Itu membuatnya muak. Jika mereka melakukan kesalahan mereka ingin itu murni karna dirinya, jika mereka melakukan hal baik itu juga karna usahanya.

Remaja ingin menemukan dirinya, sebagian remaja suka menemukan hal baru untuk dirinya. Mencoba hal yang belum mereka coba sebelumnya. Hal ini rawan jika mereka terpeleset di lubang yang salah. Tapi beri mereka kepercayaan untuk menemukan dirinya. Cukup ikuti perkembangannya dengan menjadi teman sejatinya, mau mendengarkan dan menerimanya. Mereka tak suka cacian apalagi nasehat yang begitu panjang seperti tembok raksasa di Tiongkok. Lalu apakah tak boleh menasehati remaja? Tentu boleh. Asal kita sudah mendapat tempat dihati mereka. Berlemah lembutlah dengan kata-kata, karna fase ini mereka akan jauh lebih sensitif.

Aku tahu ini tak akan mudah, tapi cobalah memulai dari hal yang sederhana. Mendengarkannya bercerita. Biarkan dia bercerita mengungkapkan isi hatinya dan mengekspresikan dirinya.

Comments

Popular Posts