Adsme

Spoon of Happiness

Kebahagian itu nggak bisa diukur dengan uang. Tapi kalo mau bahagia, setidaknya harus punya modal. Modal dengkul apa gimana ya. 


Oke baiklah, kita akan menyusun resolusi untuk tahun 2019. Eits, biasanya nih ya. Kita suka membandingan kebahagiaan orang lain dengan diri kita sendiri. Apa yang kurang di kita dan yang dimiliki oleh orang lain. Udah nggak apple to apple. Klasik. Ya, oke hidup memang kudu optimis dan memiliki target tapi nggak semua yang dimiliki orang lain harus kita miliki kan. Realistis aja, jangan ngutang sana sini cuma untuk bergengsi didepan mereka apalagi untuk berlomba-lomba. Nggak akan ada habisnya.

Banyak banget quote tentang kebahagiaan dan ukurannya. Tapi buatku sendiri kadar kebahagiaan tiap orang itu jelas berbeda, mereka juga punya parameter yang berbeda. Simpelnya sih itu nggak bisa diukur dengan mata bulat. Pernah denger kan tentang "hidup itu sawang sinawang", artinya nggak semua yang kita lihat enak itu nikmat rasanya, dan yang kelihatannya biasa biasa aja belum tentu nggak enak. Cukupin diri dengan bersyukur aja. Aku juga pernah di fase suka membanding-bandingkan hidupku dengan orang lain. Rasanya pening tiap kali liat targetku. Capek. Nggak tau harus gimana lagi. Sampai pada akhirnya aku mencoba untuk menutup akun sosmedku yang kurasa itu adalah racun pertama. Apalagi instagram. Nggak kebayang kan, semua temen sekolahku dulu pada upload foto makan di restoran mahal, belanja di toko ternama, party, traveling ke negara lain, foto di dalem mobil (kado dari orang tua) dan masih banyak lagi yang bikin aku eneg. Sedangkan aku? Cuma anak kuliahan yang nyambung hidup lewat ngajar, ngelesi, jualan, sampe jadi tour guide. Jajannya masih seputar teh raceek seharga 3000an, dan jajan cilok. Masih syukur bisa kuliah sama makan. Maklum kalo dibandingin mereka, kehidupanku jauh banget. Meski kehidupanku dulu kerasa kayak pahit banget, ada lho temen yang merasa bahwa hidupku itu enak banget karna aku bisa melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu. Ngambil keputusan sendiri, nggak perlu diskusi sama orang tua karna bapak ibuku sudah meninggal. Itu hanya sawang sinawang. Hidup yang aku rasa udah pahit, ternyata masih ada yang menganggap itu enak.

*tutup akun facebook dan instagram*

Media sosial itu baik atau tidaknya juga tergantung kita sang pemegang kontrol. Akhirnya aku mulai fokus dengan kehidupanku sendiri, mulai menyenangkan diri sendiri tanpa melihat parameter karna aku percaya aku bisa melewati batasanku sendiri. Kalo kata orang bijak sih "beyond the limit". Tiba saatnya aku naik tingkat sedikit demi sedikit. Dari mulai naik jabatan, pendapatan sampe dapet beasiswa keluar negeri. Nggak banyak yang tahu. Karna aku juga jarang share tentang achievement. Intinya sih, aku cukup produktif ketika aku mulai menutup mata dengan kebahagiaan orang lain dan tidak membanding-bandingkan kadar kebahagiaanku dengan orang lain. Sekali lagi itu nggak apple to apple.

Ada orang yang bahagia karna sudah menjelajahi mancanegara karna dapet sponsor/ gratisan. Bahagia karna punya anak setelah penantian yang cukup panjang nyaris satu dekade. Bisa hidup mandiri, nggak dibawah ketiak orang tua bisa jadi pencapaian kebahagiaan mereka. Sukses single sampe halal, yang sering disindir kapan nikah tapi nggak punya pacar ternyata memilih jalan ini. Ada yang bahagia bisa melihara banyak kucing. Bisa nyekolahin adeknya lebih tinggi dari dirinya. Bisa berangkatin haji orang tuanya. Ada yang bahagia punya motor meskipun second. Ada yang walau hidup sederhana tapi bisa berbagi dengan orang lain. Ada yang bahagia lihat mantan pacarnya nikah dengan orang lain, meski cenat cenut rasanya. Macem macem ya tipenya. Pokoknya ada aja. 

Sekarang aku lebih selow menikmati kehidupanku menjadi seorang istri sekaligus ibu. Lebih realistis dan nggak muluk muluk, let it flow aja. Nggak mau terlalu ambisius ngadepin anak atau ngikuti trend. Pening kepala ini kalo dipaksa ngikut. Kenapa nggak jadi trendsetter aja kan.


Hidup itu seimbang kok, senang dan sedih itu sepaket. Jangan khawatir kalo sekarang lagi ngerasain sedih, mungkin stok senang kita habis ini cair. Kebahagiaan itu juga bergantung dengan siapa kita berteman dan lingkungan sekitar. Lihat keatas itu boleh, tapi juga jangan lupa buat lihat bawah kali aja ada batu kerikil nanti kesandung kalo nggak ati ati. Intinya hidup itu tak seindah akun instagram para selebgram, yang menampilkan kebahagiaan saja. Kita kudu pinter memfilter asupan yang cocok untuk mata, hati dan kantong kita. Banyakin rasa syukur kita dengan apa yang sedang kita miliki.  Mendoakan hal baik untuk orang lain, kurangin komentar pedas ke akun sosmed gosip/ para artis. Mungkin emang gemas ya kalo denger berita yang menyebalkan. Tapi balik lagi, kita nggak tau pasti apa penyebabnya, coba lihat dari berbagai sisi untuk menilai orang lain. Apalagi kalo soal perselingkuhan, perceraian, dan masih banyak lagi. Udah deh kita berlomba lomba jadi dewa maha benar. Rasanya jempol ini begitu jahat pengen maki maki. Tapi udahlah terlalu ikut campur urusan orang lain tidak menguntungkan hidup kita. Cuma menguras energi. Cukup diambil aja sisi baiknya.

Hal apa yang bikin kalian bahagia? Atau Pernah nggak sih berada di fase membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain?

Sharing di kolom komentar boleh lho. Ditunggu ya.

Comments

  1. Sy pernah merasa hidup ini gak adil ketika waktu itu sy krja tpi gaji pas pas, ga kayak si 'dia', trus jg sy udh gak krja 'dia' masih krja pns lg, rezekinya bagus bgt, bikin iri, tp ya sudah lah, hidup sudah ada yg atur, tinggal kita rajin2 brsyukur aja, sy juga di tahap ini kudu byk2 brsyukur sama nikmat yg sudah sy dapat, mgkin org lain pengen posisi kayak kita, maaf ya jd curcol hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Peluk puk puk. Duhhh. Aku juga pernah diposisi itu. Rasanya dunia cuma berpihak sama 'dia'. Untunglah kita masih menyadari tentang rasa syukur. Yuppy rejeki udah ada yang ngatur. Tinggal kita yang berusaha. 🤗

      Delete
  2. Ada yang bilang bahagia adalah kebahagian itu sendiri

    ReplyDelete
  3. Sayaaa.. Sering membandingkan diri ke orang laim hehe terutama yang udah pada nikah dan berkarir bagus. Tapi siring berjalannya waktu, hal itu melelahkan sekali. Ngapain sih kaya gini terus, gak ada gunanya. Lebih baik fokus sama diri sendiri dan mewujudkan impian impian gitu deh. Tiap orang punya waktunya masing-masing. Dam hidup emang sawang sinawang sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak hidup memang sawang sinawang. Mending fokus mengupgrade diri ketimbang harus membandingkan dengan rumput tetangga yg terlihat hijau dan subur. 😁

      Delete
  4. Bahagia dan sedih berpasangan ya mbak. Kalau lg sedih, inget bahagia biar sedihnya ndak kebangetan. Begitu juga saat bahagia, inget pas sedih biar bahagianya ndak berlebihan. Secukupnya saja, karena kadang cukup sendiri lebih dari cukup :)

    Sepakat kalau tutup akun fb sama ig ini bisa berpengaruh banyak buat kondisi diri, karena apa yg ada di medsos kebanyakan adalah pencitraan. penuh bahagia-bahagia saja-jalan" terus end up yg bandingin sama kondisi diri berasa belum mencapai apa-apa. jadi yaa perlu sebijaksana mungkin melihat kehidupan, bener kalau ada istilah sawang sinawang karena apa yg keliatannya mewah bagus dan wow pasti dibalik itu ada perjuangan berat yang menyertainya. stay positif aja intinyaa biar bisa stay bahagia sama apa yg sudah dimiliki :') #kokjadipanjangyambak hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo dibandingin sama instastory temen mah kita apa. Kayak rontokan astor nggak sih. Stay positive bikin kita rileks emang.

      Delete

Post a Comment

Popular Posts

Sweet