Indoor Playground

Yaaa, nggak jadi main deh.

Bermain itu berlaku untuk semua umur dan untuk siapa aja. Beberapa waktu lalu budhe pakdhenya Aika sempet upload story WA kakak sepupu Aika yang lagi main di indoor playground. Kayaknya seru kan ya bawa Aika kesana. Gimana nggak seru, bayar 100ribu aja udah bisa main sampe puas kan udah gitu bisa ditemenin sama orang tua. Lalu apakah aku tertarik? Banget. Tapi nggak sekarang . Lho kenapa? Aika masih umur 1 tahun. Belakangan ini dia tantrum, itu lho yang nangis menjadi-jadi tapi nggak jelas kepengennya apa. Gawat kan kalo tiba-tiba tantrum di depan khalayak umum. Bukan malu sih karna diliatin sama banyak orang, yang pasti itu akan mengganggu pengunjung yang lain. Berusaha sadar diri aja sih sama kemampuan newbie seorang ibu. Belum lagi kalo orang liat aku yang nggak reaktif dia pas lagi tantrum. Ya dipeluk biasa aja, bertanya dengan nada yang biasa "adek mau cerita sama ibu?" nggak menye menye. Keliatan banget kan antagonisnya. Padahal aku tuh nggak kayak gitu. Pembelaan. Lol.

Sumber : pinterest

Setelah berpikir panjang aku memutuskan untuk tidak mengenalkannya pada indoor playground, khusus untuk saat ini ya. Next pasti aku coba kenalin. Tapi sementara biar dia puas-puasin main dirumah, diruang bermainnya dia. Haha iya dia punya ruangan khusus bermain, biar ibunya nggak marah marah (begitu kata ayah). Tapi kenyataannya dia masih suka menjajah daerah kekuasaanku. Alasan lain selain dia masih berada di fase tantrum, dia juga belum mengerti tentang berbagi mainan. Aku sama suami juga nggak pernah putus asa ngajarin dia berbagi mainan, sabar, menunggu. Yaelah anak masih setahun juga ngapain ngoyo, nanti dia juga mengerti sendiri. Oh maaf tidak begitu. Maaf mungkin cara didik kita berbeda. Dia bukan bayi menurutku, dia calon orang dewasa yang sedang belajar di fase menjadi bayi. Panjang kan urusannya haha. Apa yang kita rencanakan dan lakukan adalah membentuk sebuah pola yang baik buat dia. Ketika Aika menumpahkan air, atau merusakkan sesuatu aku akan kasih tau dia kalo itu bukan tindakan yang baik. Cara memperbaiki dengan bertanggung jawab. Begitu dasar yang harus dia miliki sebelum bermain di indoor playground. Kita juga membiasakan untuk tidak ngeblaming sesuatu karna keadaan kita. Pas Aika jatuh karna jalan terburu-buru, aku nggak reaktif "ya ampuuuun nak, kok bisa jatuh" sungguh itu bukan aku. Apalagi harus memukul lantai karna Aika sampai tersungkur disana. Itu jelas kesalahannya, dia jalan terburu-buru kenapa harus menyalahkan lantai atau kodok yang tiba-tiba dianggep nakal. Yang kulakukan adalah berekspresi biasa aja, menanyakan "bisa bangun sendiri? Ada yang sakit?" JAHAT. Ini semua aku pelajari ketika aku mengikuti training guru di salah satu sekolah elit di Malang. Iya uang sekolah bulanan sama motor baru harganya sama. Lol.

Udah ah balik ke topik

Permainan indoor playground juga banyak banget kan ya. Tapi dari sekian banyaaaak permainan disana, ternyata hanya 30% yang bisa dia pakai. Inget konteksnya Aika masih setahun. Lha terus kesana ngapain kalo dia cuma bisa main 30% dari total permainan. Berarti 30% ini ingin dia kuasai kan.

Sumber : pinterest

Terus kalo ada temen yang pengen ikutan main pas dia nggak mau berbagi gimana donk. Ya matilah aku disana kalo dia bikin kegaduhan. Aku bukan orang yang memaklumi anak dengan kalimat "namanya juga anak-anak", tentu hal ini nggak bisa dibiarin aja. Termasuk mempertahankan diri perlu dia miliki sebelum terjun bertemu dengan teman sebayanya. Iya, pasalnya banyak lho anak yang tantrum minta sesuatu terus orang tuanya ikut-ikutan mintain barang yang dipengen anaknya.

Jadi misal Aika lagi pegang buah apel, nah temennya pengen buah apel yang dipegang Aika sampe nangis gulung gulung. Orang tua si anak yang nangis itu pasti akan berusaha memintakan apel kan ya. Coba deh perhatiin kalo kalian main, terus ada orang tua yang mendampingi pasti orang tuanya banyak terlibat. Padahal ini kan kesempatan anak untuk bersosialisasi. Aku juga bukan ibu yang merampas apel itu dari Aika untuk menenangkan si anak yang nangis. Anak yang menangis itu perlu belajar bersabar dan menunggu giliran sama seperti yang aku ajarkan ke Aika. Jadi seandainya Aika ada diposisi anak yang nangis itu, aku nggak akan bantu dia. Dia memang harus bersabar dan menunggu giliran. Akan ku ingatkan kalo Aika masih bisa memilih permainan lain sembari menunggu mainan yang dia pengen itu. JAHAT nggak membela anak. Terserah deh mau bilang aku jahat. Tapi itu konsep yang sedang aku ajarkan ke dia. Pertama, aku tak mau jadi pahlawan untuk memecahkan masalah anakku, karna aku yakin semua orang punya solusi masing-masing termasuk anak umur setahun ini. Anakku pasti bisa survive kok. Kedua, nggak semua hal yang dia pengen itu bisa didapetin dengan mudah. Bisa banget kok dia main buah-buahan apel tadi, tapi dia harus berusaha sabar dan menunggu giliran. Untuk mendapatkan sesuatu memang perlu usaha. Prinsip ini yang akan kutanamkan ke anakku.

Sumber : pinterest

Belum lagi kalo dia nggak mau diajak pulang karna saking asyiknya. Harus membuat kesepakatan dengan dia. Penting banget lho, dia harus tau tentang konsep waktu kapan untuk main, tidur dan makan. Jadi kalo udah dikasih peraturan lebih awal, dia tau batasannya. Bisa lho berargumen kalo memang aku yang melanggar kesepakatan. Jadi untuk saat ini karna dia belum memenuhi syarat, kuputuskan untuk menundanya.

Ribet amat kan ya mau main indoor playground aja pake teori, prinsip dan kesepakatan. Jangan besanan sama aku, nanti anaknya aku biarin mandiri lho. Haha. Mungkin ini bisa jadi bahan pertimbangan buat yang pengen ngajak anaknya pergi ke indoor playground. Concernnya nggak cuma uang ya, tapi side effect after juga. Konsep dan prinsip yang sedang aku biasakan ke anakku bukan hal yang mudah. Itu sulit, tapi aku harus benar-benar mencobanya. Untuk kebaikanku dan anakku. Iya mending sekarang mumet ngatur konsep mumpung adonan semen masih lembek, daripada nanti baru mikirin konsep yang ada malah nyesel. Memang belum berhasil sepenuhnya. Tapi aku yakin kalo aku bekerja keras memberi pemahaman saat dia kecil, kelak aku tinggal menikmati hasilnya.

Kalo konsep atau prinsip yang akan kalian tanamkan ke anak apa aja? Kalo udah selesai mikir, ditunggu lho komentarnya.

Comments

  1. Kadang JAHAT itu perlu.....karna ga selamanya kita ato ank kita hidup dan berada di zona nyaman.....kapan bisa BELAJAR klo nyaman trs.....karna hidup itu banyak kelak keloknya.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selagi untuk mendidik dan dengan cara yang tepat ya. Udah kayak jalanan mau ke puncak kan kelak kelok. Ngeri kalo ga siap ditanjakan, yang ada masuk jurang.

      Delete

Post a Comment

Popular Posts