Adsme

Break the Rules

Banyak orang tua yang masih belum bisa menegakkan peraturan rumah. Mungkin sebenernya mereka sudah banyak mendengar dan membaca tentang ilmu parenting tentang perlunya memberi peraturan dirumah. Tapi ternyata susah untuk menerapkannya. Karna butuh rapat dan persetujuan anggota keluarga. Udah kayak mau bikin undang-undang aja. Iya memang butuh dikomunikasikan dan disepakati dengan anggota keluarga lainnya.


"Tapi mbak, suamiku tuh nggak mau ada peraturan dirumah. Yaudah nyantai aja. Setel kendo wae."

Oke, lalu tau darimana kalo anggota rumah melanggar aturan. Simpelnya kalo ada lampu merah terus kita nerobos brarti kita melanggar peraturan kan. Terus kalo nggak ada lampu lalu lintas kapan kita bisa tau kalo kita sedang melanggar. Nunggu ditabrak sama pengendara lain? Gini ya peraturan yang disepakati itu macem-macem sesuai kebutuhan dari keluarga masing-masing. Mau ditulis atau tidak itu jadi pilihan kalian. Kenapa butuh peraturan? Supaya kita tau dimana batas kita untuk melakukan kegiatan. Kesepahaman dalam menentukan peraturan itu penting. Misal, ibu cenderung menerapkan peraturan dan mendisiplinkan anak. Anak hanya boleh buka YouTube pas weekend saja atau seminggu sekali. Tapi si ayah yang cenderung kendor dengan peraturan, ah gapapa itu hiburan untuk anak. Alasannya klise, supaya anak nggak stres dan merasa tertekan. Itu bukan biar anak nggak tertekan, tapi supaya orang tua tenang melakukan aktivitasnya. Iya kan, ngaku aja. Buang ego untuk melakukan kegiatan sendiri, libatkan anak untuk beraktivitas bersama. Selagi anak kita masih kecil, masih mau ngumpul bersama keluarga. Nanti akan ada saatnya kok mereka sibuk dengan kuliah, teman-teman dan pekerjaan. Kita cuma melongo doank karna kehabisan waktu intens sama anak-anak. Kasian amat.


Tujuan diberlakukan peraturan untuk mendidik anak. Perlu diluruskan bahwa memberi peraturan yang telah disepakati bersama (ibu, ayah, anak) tidak ada hubungannya dengan tingkat stres anak. Karna sudah disepakati bersama jadi nggak ada yang merasa tertekan. Jadi peraturan memang harus ada sebagai batas. Misal, punya anak remaja yang lagi doyan main. Dia butuh nongkrong donk bersosialisasi dengan teman-temannya (kita memberi kebebasan), tapi dia harus pulang sebelum jam 7 malam. Kalo nggak ada peraturan harus pulang sebelum jam 7 malam, maka anak bebas main sampe jam berapapun. Kita sebagai orang tua tidak berhak marah karna memang tidak ada aturan membatasi si anak. Memberi kebebasan itu boleh, nyenengin anak itu perlu, tapi jangan sampe hilang kontrol. Itu FATAL. Jangan cuma jadi orang tua yang suka nyesel tapi nggak pernah melakukan usaha sebelumnya.

"heran sama anakku sekarang jadi susah diatur, keras kepala, nggak pernah dengerin kata orang tua".

It's common bullshit. Udah nggak jaman jadi orang tua model begini. Anak adalah tanggung jawab orang tua, bukan neneknya, kakeknya, tantenya, omnya, apalagi pemerintah. Jadi kontrol ada di orang tua. Kalo sudah berkeluarga tapi masih tinggal sama orang tua atau mertua tetap berikan batasan kapan orang tua kita untuk memberikan nasehat saja, bukan malah memberi mereka kesempatan untuk jadi kepala keluarga untuk selama-lamanya yang mengontrol hidup kita dan rumah tangga kita. Miris. Kalian udah dewasa. Punya keputusan yang berbeda dengan orang tua tentang pola asuh anak bukan berarti otomatis kita durhaka. Kita harus mengambil keputusan tentang rumah tangga kita.

Udah saatnya kita kembalikan fungsi rumah sebagai wadah pendidikan pertama untuk anak. Rumah adalah tempat anak belajar untuk pertama kalinya. Tentu para orang tua ingin memberikan kenyamanan untuk anak mereka. Tapi memberi peraturan akan memudahkan hidup kita dikemudian hari. Mumpung si anak masih bisa dikontrol, kita perlu pegang kendalinya. Supaya anak mengerti bahwa hidup ini bebas tapi juga berbatas. Adonan semennya masih lembek jadi masih mudah untuk dibentuk. Mungkin kita akan kelelahan mengulang peraturan-peraturan, tapi itu akan membuahkan hasil kok.

Point penting yang perlu kita garis bawahi :
1. Perlu kesepakatan bersama untuk membuat peraturan. Bukan karna terpaksa. Speak up kalo punya ide, coba yakinkan anggota keluarga lain tentang ide kita. Kalo kata suamiku "banyak orang yang punya ide, tapi cuma segelintir dari mereka yang bisa meyakinkan kalo ide mereka bagus".
2. Komunikasi antar anggota keluarga itu kunci sukses sebuah rumah tangga. Nggak cuma minta uang jajan, bayar tagihan listrik telepon, uang transport. Semua hal baiknya mulai dibiasakan untuk berkomunikasi dengan keluarga.
3. Ayah ibu harus satu suara, satu prinsip, satu visi misi apalagi untuk urusan mendidikan anak. Kalo ibunya doank yang kerja keras untuk bikin peraturan untuk mendidik anak, sedangkan ayahnya suka break the rules ya sama aja nggak bakal kepake itu peraturan. Terus kalo anaknya udah mulai nggak patuh, suka membantah dll si ibu nih biasa kena lagi. Harusnya mendidik anak itu tanggung jawab ibu. Segitu banget akibat salah milih pasangan.

Baca : menikah berbeda dengan berumah tangga


Stick the rules terlihat sulit ya. Iya karna kita belum biasa saja. Akupun juga masih berkomunikasi dengan suami tentang peraturan di rumah. Intinya DISIPLIN. Kendor sama peraturan itu bikin kita nyesel kemudiam hari. Tentang menegakkan peraturan dan visi, yang pasti kita berusaha satu suara di depan anak. Supaya anak nggak bingung dan mencari pembelaan dari salah satu pihak yang dianggep membawa keuntungan buat dia. Pernah kan pas kecil dibelain sama ibu kalian meski kalian melakukan kesalahan. Si ayah jadi sosok antagonis karna bereaksi marah atau menasehati. Buat para orang tua baru, gengs ini nggak baik lho buat membentuk karakter anak. Apalagi tentang anak nggak patuh sama aturan kita, eh dengan enteng kita bilang "nanti ibu bilang ke ayah lho". Pernah kan atau sering kayak gitu. Ternyata yang bikin anak nggak menghormati kita ya diri kita sendiri, seakan anak segannya ke ayah aja. Kita berdua nih berusaha banget satu suara, karna kita memang teamwork. Nggak ada power yang lebih kuat antara ayah atau ibu. Walaupun sebenernya kita sering banget adu argumen dibalik layar. Ya mana ada sih kalo ada ide langsung setuju aja. Sekompak-kompaknya orang tua/ pasangan wajar banget kalo adu argumen untuk sebatas memperkuat pendirian dan mempertimbangkan keputusan.

Comments

  1. I love your post dear! I want to congrats you for this beautiful blog, is so inspiring, so powerful, so unique. If you want you can check out my blog.I write about fashion, beauty, and lifestyle.Maybe we can follow each other and be great blogger friends!


    http://herecomesaajla.blogspot.ba/

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts

Sweet