Adsme

Bibit Bullying

Belajar dari kisah Audrey siswi SMP yang dikeroyok 12 siswi SMA dan dicolok kemaluannya.

Kemaren malam tiba-tiba twitter ramai dengan tagar #justiceforaudrey. Entah apa yang membuat anak-anak ini berpikir sekejam itu pada Audrey.  Tapi ini menjadi pukulan untuk kita semua para orang tua dan calon orang tua agar bisa meluangkan waktu untuk membersamai anak-anak mereka agar bibit bullying yang ada pada anak segera teratasi. Mendampingi anak saat bermain dan menonton tayangan TV atau YouTube sangat diperlukan. Jadilah temannya agar kita mudah masuk dalam dunia anak-anak kita.


Bibit bullying bisa terlihat saat anak masih balita. Maka pengawasan anak saat bermain itu perlu. Amati anak-anak saat bermain dengan teman-teman sebayanya. Bibit bullying ini beragam, salah satunya mengancam teman. Misalnya ; "yaudah aku pulang", "yaudah aku nggak mau main sama kamu", "kita nggak usah berteman lagi" dan akan berlanjut menghasut teman "temen-temen jangan main sama si A lagi, dia nggak mau main boneka sama aku", "besok kita nggak usah main ke rumah si A". "Kalo kamu masih main sama si A, aku nggak mau berteman sama kamu"

Bibit kejahatan harus diberantas sejak dini. Banyak faktor yang membuat anak memiliki bibit bullying, maka peran orang tua harus ditingkatkan ; bermain bersama anak, mengamati, menjadi fasilitator. Jadi kalo dengar anaknya mulai mengancam temannya, menghasut teman lainnya tolong tanyakan apa alasan mereka tidak mau bermain dengan temannya. Mari kita sama-sama belajar menjadi mediator, menyelesaikan permasalah anak-anak bukan menyelesaikan pertemanan mereka.


Contoh yang akan saya tuliskan diambil dari buku The Danish Way of Parenting (Jessica & Iben)

Jika anak-anak sedih atau marah, orang tua mencoba membantu anak untuk menjadi sadar mengapa mereka merasa seperti itu.
Ibu : Apa yg terjadi?
Anak : Tidak apa-apa
Ibu : Sepertinya ada masalah-benarkah?
Anak : Iya
Ibu : Ada apa?
Anak: Aku nggak tahu
Ibu : Apa kamu sedih? marah? senang?
Anak : Aku sedih
Ibu : Mengapa kamu sedih?
Anak : Aku sedih karna Gary mengambil bonekaku waktu main
Ibu : Dia mengambil bonekamu. Menurutmu, kenapa dia ambil bonekamu?
Anak : Karena dia nakal
Ibu : Apa Gary selalu nakal?
Anak : Iya
Ibu : Tapi minggu kemarin kamu bilang kalo kamu main terus dengan Gary, kan?
Anak : Iya
Ibu : Apa dia nakal waktu itu?
Anak : Enggak
Ibu : Oke kadang-kadang Gary baik?
Anak : Iya, kadang dia baik
Ibu : Jadi apa yang terjadi saat dia ambil bonekamu?
Anak : Aku nangis
Ibu : Jadi kamu sedih pas dia ambil bonekamu. Ibu/ ayah bisa mengerti itu. Apa yang kira-kira bisa kamu lakukan, sesuatu yang berbeda, kalo dia begitu lagi lain kali supaya kamu tidak sedih?
Anak : Aku akan bilang ke dia untuk mengembalikan atau aku akan bilang ke bu guru
Ibu : Kurasa meminta dia mengembalikan adalah solusi yang bagus. Apa Gary suka bermain boneka?
Anak : Kadang-kadang
Ibu : Apa yang bisa kamu lakukan selain minta dia kembalikan bonekanya?
Anak : Mungkin kami bisa bermain bersama
Ibu : Sepertinya itu solusi yang bagus. Kita tahu sebenarnya Gary orang yang baik. Jadi, lain kali kamu bisa tanya dia apa dia juga mau main boneka.
Anak : Iya

Percakapannya panjang ya buibuk. Tapi ini salah satu contoh berkomunikasi dengan anak. Jadi kita jangan melulu nyeramahin anak dan  minta bantuan saja "nak minta tolong belikan gula di warung", "nilai ujiannya dapet berapa?", "udah ngerjain PR?" coba mulai peduli dengan dunia anak-anak kita.

Mari kita renungkan "Apa benar kita sudah mendidik anak-anak kita dengan baik? Atau kita hanya memenuhi kebutuhan fisik mereka saja? memberi makan dan kebutuhan sekolah saja?"

Jika mendidik anak sendirian terasa berat mintalah partner kita untuk membantu, minta tetangga kita ikut mengawasi anak kita saat bermain, mintalah mereka untuk menegur perbuatan salah anak kita, bukakan hati seluas samudera untuk menerima masukan dari orang lain agar tidak mudah sakit hati saat ditegur. Untuk para tetangga yang melihat anak saya melakukan hal yang tidak baik seperti memukul atau membully, beritahu saya. Begitulah tanda peduli dari orang-orang sekitar kita. Lebih baik anak itu kecewa sekarang karna kita tidak membela perbuatan buruknya, daripada mereka berujung dengan kasus hukum kelak jika mereka melakukannya saat dewasa. Jangan biarkan perilaku buruknya saat kecil membawa mereka ke jeruji besi. Ingatlah peran besar kita sebagai orang tua.

Bantul 10 April 2019,
Elsa

Comments

  1. masalah terbesar sepertinya mendeteksi jika anak mengalami bullying di sekolah. Susah mengorek keterangan dari mereka, tapi di sisi lain perilakunya berubah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kooperatif dengan sekolah dan guru menjadi solusi untuk kita agar lebih tenang saat anak2 sekolah. Menanyakan bagaimana sikap sekolah terhadap bullying, sudah harus ditanyakan sebelum masuk sekolah.

      Delete

Post a Comment

Popular Posts

Sweet