Adsme

Pertolongan Korban Bullying

Setelah menerima perundungan/ bullying sebagian besar korban selalu mengalami fase trauma. Apakah akan sembuh trauma ini? Kemungkinan sembuhnya sangat kecil. Jadi efeknya memang berkepanjangan. Jadi sebisa mungkin hindari membully anak.

Tak jarang orang tua menjadi salah satu pelaku perundungan. Kebanyakan berlaku secara verbal hingga fisik. Misalnya ; "kamu ini bodoh, gitu aja nggak bisa", panggilan seperti ndut, cungkring, tompel, kriting, dsb. Wah ternyata nggak kita sadari ya bahwa kita sering membully. Mungkin ekspresi anak kita biasa-biasa aja. Tapi coba pikir kembali apakah itu tidak melukai perasaanya? Nggak semua orang bisa secuek itu dengan panggilan yang sering kita anggap biasa. Mungkin itu akan memberi luka.

Lalu bagaimana cara mendukung anak setelah menjadi korban bullying

1. Love


Menunjukan rasa sayang dan perhatian ke anak adalah hal pertama yang harus kita lakukan. Karna setelah menerima perundungan mereka (korban) merasa rendah diri. Keberadaan dan kepedulian orang tua menjadi pertolongan pertama. Anak akan merasa bahwa ia tidak sendirian. Peluk mereka sebelum dan setelah berpergian sebagai salah satu cara bahwa kita menyayangi mereka. Rasa sayang itu harus diungkapkan dan ditunjukan.

Jika kalian punya cara sendiri untuk mengungkapkan rasa sayang dan kepedulian. Tulis di kolom komentar ya.

2. Feeling


Pahami apa yang dia rasakan, berempatilah dengan yang sedang dialami anak. Jangan membuatnya berhenti menangis. Temani dia jika dia masih ingin menangis dan mengekspresikan kesedihannya. Jangan langsung melabeli anak cengeng. Semua yang diekspresikan pasti ada alasannya. Tapi jika terlalu larut dalam kesedihan sebaiknya kita para orang tua mencoba mengalihkan pada kegiatan yang positif, misalnya ; ajak anak untuk mengikuti kelas memasak, melukis, melakukan hobbynya, dsb.

3. Conversation


Half conversation is listening. Iya kalo cuma ngomong satu arah namanya ceramah.

•Seberapa sering kita ngobrol santai dengan anak-anak?
•Kapan terakhir kita ngobrol dengan anak?
•Apakah kita tau makanan favoritenya?
•Apakah kita tau siapa teman terdekatnya?
•Siapa tokoh idolanya?
•Dimana tempat main favoritenya?
•Bagaimana jika semua tebakan kita salah?
•Apakah benar kita mengenal anak kita?

Ngobrol itu merupakan investasi yang jarang dilakukan para orang tua. Mengapa? Karna para orang tua merasa menyukupi anak dengan materi, kebutuhan sekolah, kebutuhan sehari-hari sampai liburan keluar negeri. Apakah benar mereka bahagia menerima itu semua? Tapi kita sering tidak punya waktu untuk mengajaknya ngobrol. Padahal intens ngobrol dengan keluarga itu penting banget. Aku sering menjumpai keluarga yang sibuk dengan HP ketika makan bersama disebuah restoran, ketika berkumpul dirumah. Sepertinya mereka tak ada bahan yang harus dibahas. Sekalinya ngajak ngobrol pas nerima rapor yang nilainya ancur, nyeramahin anak kita lemah setelah dibully temannya. Itu sama halnya menambah beban pikiran dan traumatisnya. Mengapa tidak mencari solusi atau memecahkan masalah bersama-sama.

4. Environment


Kita harus menempatkan anak-anak pada lingkungan yang baik. Baik versiku dan versi kalian pasti berbeda. Dari mulai sekolah, tempat tinggal, tempat les, dsb. Bukannya untuk memproteksi berlebihan tapi lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap perilaku anak. Semua anak yang terlahir itu baik. Tapi darimana anak kita bisa berkata kasar, darimana anak kita menjadi tukang bully, darimana anak kita merasa minder? Lingkungan terdekat sangat berpengaruh terutama rumah dan sekolah. Tanyakan ke sekolah tentang bagaimana sekolah menghadapi bullying? Bagaimana menanggapi laporan anak yang mengaku dibully, atau punya masalah dengan temannya?

Jika sekolah hanya diam saja dengan masalah perundungan/ bullying. Keluar saja dari sekolah. Daripada traumanya terbawa sampai dewasa.

Jangan hanya berpatokan dengan fasilitas yang terlihat saja lalu menyimpulkan bahwa sekolah itu bagus. YAKIN?

5. Behavior


Perhatikan tentang segara perubahan yang terjadi pada anak. Apakah perilakunya biasa-biasa saja, membaik atau makin memburuk setelah menerima bullying. Jika biasa-biasa/membaik periksa kembali dan yakinkan diri sendiri bahwa semuanya kembali seperti sedia kala. Jika memburuk segera minta pertolongan pada psikolog anak. Tak jarang anak bisa merasa depresi tapi sering tidak diungkapkan. Tapi kita bisa lihat dari perilaku atau mungkin prestasinya. Dia butuh percaya kepada kita sebagai orang yang bisa diandalkan. Jadilah teman untuk anak-anak kita sendiri agar lebih mudah mengamati perubahan perilakunya. 

6. Education


Ilmu itu berkembang sangat pesat, semuanya perlu diperbarui. Termasuk ilmu parenting. Banyak orang tua yang sudah melek akan ilmu parenting. Tapi sayang sekali nggak banyak dari mereka yang mempraktekkan ilmunya. Perlunya pengetahuan tentang bullying, kalian bisa baca buku tentang bullying, ikut seminar, atau berkonsultasi dengan psikolog. Buka pikiran dan hati kita selebar lapangan golf agar kita mudah menerima pendapat orang lain dan pengetahuan baru. Hindarkan anak dari pengaruh dan lingkungan bullying agar anak tidak mengulang trauma. Siapkan anak menjadi tangguh dan berpendirian. Kirim anak ke pusat pelatihan bela diri untuk pertahanan diri.

Luangkan waktu lebih untuk membersamai anak. Ada 7 hari dalam seminggu. Gunakan weekend untuk bersama keluarga. Ambilah cuti jika memang diperlukan untuk berlibur bersama. Mungkin kita sibuk dengan pekerjaan. Tapi sediakan waktu khusus untuk bersama mereka dan mengenal dunia mereka. Letakkan gawai/ gadget kita sementara. Tahan diri untuk tidak memotret momen bersama anak untuk sesekali. Rasakan kebersamaan yang sering kita lewatkan bersama mereka.

Tidak semua hal bisa diabadikan lewat kamera. Ada saatnya kita merasakan begitu naturalnya menjadi orang tua. Setiap kenangan tak perlu melulu dipotret, karna rasa tak akan bisa terabadikam lewat gambar tapi lewat sebuah ingatan dan pengalaman.

Jika hari ini tidak bisa meluangkan waktu memberi perhatian, kasih sayang, mempedulikan anak-anak, bahkan tak pernah menanyakan kabar atau perasaannya. Jangan terlalu baper jika tua nanti anak-anak akan sibuk dengan dunianya, tidak memberi waktu khusus untuk kita.

With love,

Elsa

Comments

  1. Bermanfaat banget mba, jleb banget di point komunikasi.

    anak saya 8 tahun, laki, ampuuuunnn deh cerewetnya.
    Kadang saya jadi males nanggapinya.

    Padahal saya harusnya bersyukur karena anak saya percaya ama saya dan menceritakan segalanya hiks huhuhu

    Kadang saya malah merasa membully anak saya, padahal saya takut banget melepasnya keluar karena takut dibully dan membully :(

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts

Sweet