Adsme

Porsi Adil

Ngeliat beberapa temen, saudara dan tetangga  yangsudah punya 2 anak atau lebih. Rasanya semakin ragu, apa aku bisa seadil itu jika punya anak lagi. Tenang aku tidak dalam rencana nambah anak dalam waktu dekat. Ngurus anak satu aja rasanya masih belum bisa ngontrol emosi dengan baik, belum lagi aku masih menikmati kebersamaan dengan anakku yang masih 1,5 tahun ini.


Tapi aku cukup punya pengalaman karna memiliki saudara. Aku belajar tentang sebuah keadilan darisana. Jadi aku akan membagikan sedikit tulisan tentang sebuah rasa adil yang seharusnya diterima anak.  Kata orang sih, anak memang akan berpikir orang tua tidak pernah adil pada anaknya. Tapi apa iya rantai simalakama ini tidak bisa diperbaiki? Bukankah kita sama-sama mencari solusi yang terbaik sebagai anak maupun orang tua.

Buatku adil itu ketika orangtua bisa memberikan kebutuhan (fisik dan psikis)  anak sesuai dengan porsinya. Aku rasa banyak orang yang salah kaprah dalam menerapkannya. Kalo si kakak suka bola, si adek juga akan disamaratakan suka bola. Apa benar si adek suka bola? Mungkin saja adek suka berenang. Bahkan kebutuhan anak kembarpun tak sama. Cuma terkadang orang tua memaksakan anak untuk melakukan hal yang sama. Nantinya hanya akan menguras energi tanpa mendapatkan hasil yang baik jika tidak segera memperbaiki keadaan. Orang tua harus bisa mengobservasi kebutuhan anak. Jika kakak sedang bersedih, orang tua hanya perlu memeluk kakak. Tidak perlu memeluk keduanya. Karna dalam kondisi ini, yang membutuhkan pelukan adalah kakak. Orang tua hanya perlu menjelaskan kenapa memeluk kakak. Dengan begitu adek juga akan berusaha memahami situasinya.

Kekeliruan orang tua selama ini adalah, memberikan sesuatu yang dianggapnya sama rata namun tidak dirasa adil bagi anak. Bahkan makanpun ada porsinya, si kakak yang sudah usia 3 tahun akan makan sesuatu yang berbeda dari adeknya yang usianya 6 bulan. Tapi orang tua sudah memberikan hal yang tepat, memberikan sebuah rasa adil adil sesuai porsi masing-masing. Kakakpun tidak akan iri dengan porsi makan adek yang masih dalam bentuk bubur dengan  porsi yang sedikit. Adekpun juga tidak akan protes dengan porsi kakak yang lebih banyak. Tapi ada lho kakak yang merasa tidak adil karna makanan yang diterima terlalu banyak. Apa iya si kakak hanya mencari alasan agar segera selesai makan, atau memang kita memaksakan dia makan dengan porsi yang berlebihan.

Semakin hari semakin menyadari bahwa porsi adil itu tidak hanya dirasakan oleh kakak dan adek. Di kantor, organisasi, lingkungan, dunia pertemanan, bahkan antara suami dan istripun juga akan ada yang merasa tidak adil. Meski  masih satu tapi aku juga belajar bersikap adil dengan anak dan suamiku. Bukan berarti ketika aku jadi ibu, tugasku sebagai istri auto dimengerti oleh suami. Banyak lho yang merasa seperti ini, istri merasa lelah mengurus anak, tapi suami juga butuh perhatian. Percayalah baik anak ataupun suami juga sama-sama membutuhkan perhatian kita. Apa para istri juga mau, tidak mendapatkan perhatian karna suami lelah bekerja. Pada akhirnya hubungan rumah tangga jadi tidak sehat.

Jadi pastikan bahwa perhatian, kasih sayang, kebutuhan yang mereka butuhkan benar-benar diberikan sesuai dengan porsinya.

Kalian pernah merasakan orang tua kalian tidak adil, karna apa? Atau kalian sekarang jadi orang tua yang sedang bingung dengan menerapkan porsi adil untuk keluarga?

Ceritain di kolom komentar ya.

Comments

Popular Posts

Sweet